Minggu, 08 Maret 2015

Kesantunan Akan Menjauhkan Anda dari Kesalahan

Kesantunan Akan Menjauhkan Anda dari Kesalahan
Seorang guru di Jepang mengatakan kepada murid-muridnya, “Mengalah itu ibarat pohon willow (pohon yang tegak dan kuat), dan tidak melawan itu ibarat pohon oak (phon yang keras dan kokoh).”
Disebutkan dalam sebuah hadits: “Orang mukmin itu ibarat tanaman yang masih kecil yang ditiup angin ke kanan dan ke kiri.”
Seorang yang bijak itu ibarat air, yang tidak berbenturan dengan batu cadas namun menggenanginya dari samping kanan dan kiri, dari atas, dan bawah.
Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan: “Seorang mukmin itu ibarat unta yang dicucuk hidungnya. Jika diderumkan di atas batu, maka pasti dia akan menderum diatasnya.”

Sumber: Buku “La Tahzan” Karya DR. ‘Aidh al-Qarni

Rabu, 04 Maret 2015

Pohon Itu


Pohon Itu
Terbayang dengan pohon itu, pohon yang memberikan banyak kenangan indah. Saat aku lelah dan merasa kepanasan, aku selalu singgah di pohon itu. Pohon itu bagaikan rumah kedua bagiku. Pohon itu juga yang membuat aku bahagia, karena pohon itu juga yang telah memberikan kesegaran yang nyata, serta oksigen yang baik untuk kesehatanku. Aku ingat pohon itu, iya pohon dekat rumahku yang selalu aku singgahi setiap waktu” Aku berkata dalam hati sembari mengingat masa lalu yang sangat menyenangkan dengan pohon itu.
            Dulu, aku memiliki tempat spesial dimana ketika aku lelah, aku selalu mampir ke pohon itu. Pohon yang cukup tinggi serta daun nya yang amat rindang, pohon itu memiliki keunikan tersendiri. Keunikan apa itu? Tak tahu kenapa ketika aku singgah di pohon itu, aku merasakan kenyamanan dan ketenangan. Itu yang membuatku senang berlama-lama di pohon tersebut, bahkan suatu kali aku pernah tertidur pulas di pohon itu. Terkadang ketika aku merasa suntuk dan bosan, aku mampir sejenak ke pohon tersebut. Iya pohon itu memberikan sebuah makna yang mendalam. Itu sudah lama sekali, aku kembali mengingat moment itu dan berfikir suatu saat aku bisa kembali ke pohon tersebut, dan mengalami masa kecil yang menyenangkan lagi.
            Tapi tak di duga, setelah sekian lama aku meninggalkan rumah, pohon yang berdiri tegak dan kokoh itu lenyap dan hanya tersisa kenangan saja. Tak kusangka bahwa ternyata pohon tersebut telah ditebang untuk membuat proyek perumahan baru. Pohon yang selama ini memberikan makna yang amat luar biasa, sekarang hanya menjadi kenangan yang lara. Setelah sekian lama aku pergi, tak kusangka pohon tersebut telah tiada. Hati ini tak kuasa menahan tangis dan duka. Kesedihan ini tak bisa dipungkiri, betapa banyak kenangan bersama dengan pohon itu, kenangan manis tanpa ada pahit. Kenangan yang hingga kini masih membekas.
Kini pohon itu telah tiada. Sekarang aku duduk diam dan termenung, sembari memikirkan apa yang harus dilakukan. Aku kemudian bergumam dalam hati, “Kenapa aku tak menanam pohon lagi saja ya di tempat yang berbeda? Kali aja pohon itu bisa bermanfaat”. Dengan cepat dan langkah yang penuh harap, akhirnya aku memulai untuk menanam pohon kembali. Setelah mencari tempat yang pas,  kemudian aku gali tanah, dan memulai untuk menanam. Aku tau, untuk menunggu nya tumbuh tinggi dan besar membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi dengan ini aku menjadi belajar banyak hal. Setidaknya aku tidak berlarut dalam kesedihan, serta ada kemauan untuk berubah dan berfikir cerdas. Ketika sudah memiliki pemikiran cerdas, kita imbangi dengan aksi nyata, agar tidak sia-sia pemikiran cerdas yang muncul.
Ternyata aku tau apa maksud Tuhan mengirimkan seseorang untuk menebang pohon ini, agar aku berfikir untuk bisa menumbuhkan kembali, pohon yang sama walaupun di tempat yang berbeda. Tidak masalah membutuhkan waktu yang lama, tapi manfaatnya nanti untuk dunia, akan sangat besar. Kalo melihat fakta di Indonesia, di wilayah Kalimantan yang selama ini dipuji-puji akan kekuatan hutan nya dengan berates-ratus pohon, sekarang hanya tinggal beberapa saja karena ulah-ulah manusia yang serakah. Ditebang tanpa ada penanaman kembali, tidak adanya reboisasi yang optimal, maka alam pun marah dan murka.
Akhirnya aku tau apa maksud dari semua ini. Akhirnya aku belajar bahwa kita harus menjaga pohon-pohon yang ada, karena pohon menjadi penobang bagi dunia, berkat pohon pula kita bisa menikmati air dalam jumlah banyak. Kalo bukan kita sebagai manusia yang menjaga, lalu siapa lagi?

Pernyataan Para Pemikir


Pernyataan Para Pemikir
Robert Louis Stevenson menulis: “Setiap orang mampu untuk melakukan pekerjaannya sepanjang hari sesulit apapun pekerjaan itu, dan setiap orang mampu untuk hidup bahagia sepanjang hari hingga matahari tenggelam. Inilah yang dimaksud dengan hidup.”
Pemikir lainnya mengatakan, “Kehidupanmu itu hanya sehari saja. Kemarin telah pergi dan besok belumlah datang.”
Stephen Leacock menulis: “Anak kecil mengatakan, ketika aku menjadi remaja nanti, sedangkan yang remaja mengatakan, ketika nanti aku menjadi seorang dewasa, nanti ketika aku menjadi dewasa aku akan kawin. Namun apa yang terjadi setelah pernikahannya? Lalu apa yang terjadi setelah semua fase itu terlewati? Pikiran-pikiran yang pernah ada itu pun berubah. (Pikiran-pikiran itu selalu mengikuti apa yang akan terjadi nanti). Misalnya, nanti ketika sudah pensiun. Ketika sudah benar-benar tua, ia kehilangan kehidupannya yang telah lewat tanpa merasakannya walau hanya sedetik. Kita baru mau belajar, ketika kesempatan yang pernah ada itu sudah lepas, bahwa kehidupan itu harus dirasakan dalam setiap detik, setiap jaman dari kehidupan kita sekarang.”
Demikian pula orang yang selalu mengatakan, “..saya akan melakukan taubat”.
Seorang ulama salaf mengatakan, “Saya mengingatkanmu tentang perkataan ‘akan …’, sebab kata itu sudah banyak mencegah terjadinya kebaikan dan menunda dilakukannya perbaikan.”
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka.” (QS. Al-Hijr: 3)
Seorang filosof asal Prancis, Montaigne, mengatakan, “Hidupku penuh dengan derita yang buruk yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan.”
Saya tegaskan bahwa meski memiliki tingkat kecerdasan yang lebih baik dan pengetahuan yang luas kebanyakan, mereka tidak tahu hikmah di balik penciptaan mereka. Mereka tidak mengambil petunjuk Allah yang dibawa oleh utusan-Nya.
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila Dia mengeluarkan tangannya, Tiadalah Dia dapat melihatnya, (dan) Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah Tiadalah Dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. An-Nuur: 40)

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insaan: 3)
Dante, seorang penyair asal Italia, berkata, “Pikirkanlah bahwa hari ini tidak akan pernah muncul kembali.”
Tapi jauh lebih baik, lebih indah, dan lebih sempurna dari semua kutipan diatas adalah hadits Nabi: “Shalatlah seperti shalatnya orang yang tidak akan pernah kembali lagi.”
Orang yang menanamkan keyakinan di dadanya bahwa hari kehidupannya saat ini adalah hari terakhirnya; maka dia akan memperbaharui taubatnya, akan melakukan amalan terbaik, akan lebih taat kepada Rabb-nya, dan akan senantiasa mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Kalidasa, seorang aktor drama India yang sangat terkenal itu menulis puisi yang indah:



Salam Buat Sang Fajar.
Lihatlah hari ini.
Sebab ia adalah kehidupan, kehidupan, dari kehidupan.
Dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu.
Nikmat pertumbuhan.
Pekerjaan yang indah.
Indahnya kemenangan.
Karena hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi.
Dan esok hari hanyalah bayangan.
Namun hari ini ketika Anda hidup sempurna,
telah membuat hari kemarin sebagai impian yang indah.
Setiap hari esok adalah bayangan yang penuh harapan.
Maka lihatlah hari ini.
Inilah salam untuk sang fajar.

Sumber: Buku “La Tahzan” Karya DR. ‘Aidh al-Qarni

Minggu, 01 Maret 2015

Mengambil Hikmah dari Seekor Burung



Mengambil Hikmah dari Seekor Burung
Allah SWT, Maha Pencipta Segala dan yang Menguasai Segala alam raya. Ketika Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di jagat raya, kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang sia-sia dalam penciptaannya. Semua tersimpan hikmah dan pembelajaran bagi orang yang mau berfikir. Salah satunya adalah, Allah menciptakan hewan yang memiliki sayap yang bisa terbang bebas, kemanapun perginya tidak ada yang menghalanginya, yaitu burung.
Ketika kita pergi ke sawah, kemudian kita melihat padi-padi yang sudah mulai menguning dan siap untuk di panen, kalian akan melihat bahwa petani memasang alat untuk mengusir burung seperti lonceng. Kenapa lonceng ini dibuat? Karena burung-burung tadi akan memakan padi yang ada di sawah. Burung-burung ini terkadang bergerombol, kadang hanya sendiri, dan mereka sudah mengintai padi-padi yang mulai menguning.
Disini saya mengambil satu pelajaran penting, ternyata burung itu sedang berusaha, berusaha apa? berusaha untuk mencari makan. Burung itu datang ke ladang sawah untuk memakan padi yang ada, kemudian ketika burung sudah merasa kenyang maka mereka pergi. Burung tadi tidak menunggu di sarangnya dan menunggu keajaiban. Burung tadi berusaha dengan mengepakkan sayap nya, terbang kesana kemari untuk mencari makanan. Mereka berani keluar dan mencari, bahkan ketika ada mangsa yang mengintai, mereka tidak takut untuk keluar. Mereka juga tidak membawa makanan untuk hari esok, karena burung tadi merasa, belum tentu besok masih bisa hidup. Maka dari itu burung tadi makan hanya secukupnya, tidak berlebihan.
Dari penjelasan diatas, saya merasa malu dan geram ketika ada manusia yang hanya diam di rumah, tidak keluar mencari rezeki karena manusia ini menganggap bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Ini sama saja mencari pembenaran dalam kemalasan. Manusia yang hanya beribadah saja tanpa ada usaha untuk mencari nafkah, sama saja mendzolimi diri sendiri. Burung saja berani keluar untuk meninggalkan sarang hanya untuk apa? Untuk makan, untuk mencari rezeki. Apakah burung ini tidak tahu kalo hidupnya di jamin Allah? Burung itu tahu, tetapi apa? Kita juga harus mencarinya, karena pada dasarnya Allah sudah menebarkan rezeki yang ada di dunia, tinggal kitanya seperti apa, apakah mau mengambilnya atau tidak. Burung saja yang tidak memiliki akal tau akan hal itu, maka seharusnya manusia lebih paham dan lebih mengerti.
Memang Allah sudah mengatur rezeki kita pada saat kita berada dikandungan ibu kita dalam 4 bulan. Tetapi, disini Allah memberikan kita akal untuk berfikir dan tenaga untuk bekerja. Bukan karena rezeki kita diatur justru kita menjadi malas dengan melakukan pembenaran bahwa kita hanya berdoa saja dan menunggu dirumah serta mengatakan “kalo rezeki akan datang kok”. Itu salah dan tidak benar. Justru rezeki itu harus dijemput, seperti burung yang mencari makanan, bukan makanan yang datang sendiri ke burungnya, justru burungnya pergi meninggalkan sarang untuk mencari makanan. Rezeki itu akan datang ketika seseorang berusaha dengan sekuat tenaga, maka bayaran yang setimpal adalah rezeki yang didapatkan.
Sudah sepatutnya kita belajar dari burung. Kalo kita mau berfikir, maka kita akan menemukan hikmah yang teramat dalam. Manusia yang derajatnya lebih tinggi karena diberikan akal dan perasaan, sepatutnya dapat merenung dan mencontoh dari hewan yang memiliki sayap ini.