Cinta Ibu Terbawa
Mati
Ketika Perang
Vietnam pecah, mengikuti kata hati dan kewajiban untuk membela negara maka
seorang suami yang masih muda bergabung dengan militer dan mengorbankan
hidupnya meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sang ayah ternyata tewas di medan
laga meninggalkan dan anak-anaknya.
Kehidupan
pasca perang itu sangatlah sulit. Sering kali tidak punya cukup makanan untuk
dimakan. Sang istri yang saat itu masih muda dan cantik menolak untuk menikah
lagi dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membesarkan anak-anaknya dengan
merawat dan membesarkan mereka sendiri dan menyekolahkannya setinggi-tingginya
meski dia sendiri harus menahan lapar.
Suatu hari
sebuah kesempatan datang. Putra pertamanya mendapat kesempatan untuk bersekolah
di Amerika. Ibunya berpesan agar anaknya belajar serius. Akhirnya, sang anak
bisa menjadi seorang insinyur dan bekerja di lembaga antariksa NASA serta
memiliki kehidupan yang berkecukupan.
Anak
laki-lakinya itu sering mengirim surat ke rumah sang ibu dan dalam suratnya itu
juga tak lupa dia kirimkan sejumlah uang untuk dibelanjakan ibunya. Namun
ibunya memintanya satu hal saja, bukan uang yang dia inginkan, tapi dia hanya
ingin bisa bertemu dengan anaknya yang sudah lama tidak pernah ditatapnya lagi
sejak kepergiannya ke Amerika.
Tahun berganti
tahun. Sang anak tetap saja mengatakan belum bisa pulang pada ibunya. Padahal
dari perusahaannya bekerja ada jadwal cuti yang bisa digunakannya untuk
mengunjungi sang bunda. Namun anaknya tetap keras kepala menolak untuk melakukan
perjalanan pulang mengunjungi ibunya.
Ketika
akhirnya sang ibu meninggal, anak itu pun pulang ke rumahnya. Dia membuat
persiapan sebuah pemakaman mewah dan besar-besaran untuk menghormati jenazah
ibunya yang tak pernah bisa dia lihat lagi semasa hidupnya. Meski persiapan
pemakaman itu sangat mewah, semua orang yang hadir disana melihat bahwa sang
anak sama sekali tidak merasa sedih ibunya telah tiada. Tak ada tetesan air
mata yang menandakan bahwa dia sangat kehilangan bundanya dan menyesal bahwa
dia tak pernah berjumpa di saat hidupnya. Ibunya hanya meninggalkan sebuah
kotak yang dia selalu tempatkan di bagian atas tempat tidurnya. Sebelum
pemakaman, anak laki-laki itu kemudian membuka kotak tersebut dan tiba-tiba dia
menangis histeris dan berteriak, sambil terisak-isak dia memeluk peti jenazah
ibunya, “Ibu! Ibu! Ibu…”
Semua orang
saling memandang dan menatap kotak itu. Ternyata kotak itu penuh uang seratusan
dolar dan secarik kertas yang di dalamnya ada sebuah tulisan:
Nak, aku tidak menghabiskan terlalu banyak
uang. Aku sangat merindukanmu. Setiap kali aku mendengar sepeda motor yang
lewat, aku selalu membukakan pintu, tapi itu bukan anakku. Aku menyimpan uang ini
untukmu. Mungkin suatu saat kamu jatuh sakit sehingga ibu harus menjengukmu ke
Amerika.
(Sumber: Buku “Bukan Untuk Dibaca
The Most Inspiring Story” karya Deassy M. Destiani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar