Kamis, 12 Februari 2015

Change your Habit, Change your Life, Change your Future

Change your Habit, Change your Life, Change your Future
“Judulnya aja udah pake bahasa inggris, jangan-jangan isinya pake bahasa inggris nih??” Tenang-tenang, isinya pake bahasa Indonesia kok, walaupun sedikit agak aksen kebaratan haha. Dari judul, sudah bisa tertebak ya apa yang ingin saya sampaikan. Saya ingin menerangkan bahwa merubah kebiasaan dapat merubah hidup dan tentunya akan merubah masa depan anda. Simak yuk…
Habit atau kebiasaan, merupakan tindakan manusia yang dilakukan selama berhari-hari dan itu sudah melekat pada dirinya. Kebiasaan yang dilakukan ini sudah sangat mendarah daging dan sudah menjadi suatu hal yang selalu diulang. Seperti contoh kebiasaan makan kita di pagi hari, suatu hari kita tidak makan pagi biasanya perut akan sakit. Itulah kebiasaan, kalo tidak dikerjakan sekali maka akan menyebabkan kerugian atau tidak seimbangnya tatanan yang sering dilakukan. Kemudian kebiasaan kita ketika bangun pagi lalu merapikan tempat tidur, jika orang yang sudah membiasakan maka akan merapikan, tetapi yang tidak membiasakan maka akan membiarkan tempat tidurnya.
Sudah dipaparkan penjelasan dan contoh dari habit, maka di alinea ini saya akan menjelaskan bahwa “Habit yang baik maka akan menghasilkan hidup yang baik”. Merubah habit yang buruk menjadi habit yang baik, memang membutuhkan proses, itu semua tergantung dari individu itu masing-masing. Secara logika, habit yang buruk maka akan mengakibatkan kehidupan kita buruk. Contoh saja orang itu kebiasaan menyakiti teman, maka akan menimbulkan kemarahan dan kebencian dari  teman-temannya yang telah disakiti. Maka dari itu saya menekankan bahwa, siapapun yang memiliki kebiasaan buruk yang melekat hingga sekarang, musnahkan lah itu dan hancurkan lah, rubah menjadi habit yang baik. Habit ini sangat mempengaruhi penilaian kita di mata orang. Kita bisa dipandang sopan, rajin, tekun itu ya dari habit. Kita bisa dipandang urakan, ga tau diri, dan nakal ya dari habit. Maka dari itu, ubahlah habit yang masih buruk menjadi baik, yang sudah baik segera ditingkatkan sehingga hasilnya maksimal.
Kemudian ketika habit sudah dirubah menjadi habit yang baik, maka otomotis dan secara nalar yang sehat, itu akan merubah hidup kita. Hidup yang biasanya mengalami ketakutan, was-was, dan selalu curiga akan tergusurkan dari memulai suatu habit yang baik. Habit yang baik ini ibarat obat bagi kita semua, obat bagi hati kita, obat mujarab bagi kehidupan kita. Bagaikan stimulus yang memberikan efek positif. Kehidupan yang diawali habit yang buruk maka akan merugikan hidup kita sendiri, menyia-nyiakan kehidupan yang sudah diberikan Allah kepada kita. Habit buruk memberikan pandangan masyarakat yang buruk pula serta menyengsarakan hidup kita sendiri. Maka dari itu mulailah bangun, ubah kebiasaan buruk, dan take action.
Masa depan, berbicara masa depan ini akan sangat berkaitan dengan kebiasaan yang dilakukan dan impact dari perilaku habit ini. Ketika kita sudah membiasakan perilaku yang baik, dan itu sudah menjadi kebiasaan dalam hidup, maka akan memberikan masa depan yang baik pula. Itu seperti pepatah “Menanam baik akan menghasilkan baik pula”. Sesuatu yang sifatnya jauh dan memang belum terlihat, tetapi ketika kita membiasakan hidup kita baik, maka insya Allah, masa depan kita juga akan baik. Tanamlah kebaikan dan kita akan menuai itu di masa depan.  Terkadang menanam baik saja hasilnya belum tentu baik, apalagi yang menanam dengan keburukan atau kebiasaan yang buruk? Maka dari itu, rubahlah kebiasaan kita, selama jantung masih berdetak serta perilaku buruk kita belum merugikan orang banyak. So, ciptakan habit yang baik agar menghasilkan hidup yang baik dan berkualitas, dari hidup yang baik dan berkualitas itulah memberikan masa depan positif dan cerah.

Selasa, 10 Februari 2015

Tabiat Binatang

Tabiat Binatang
Bagus dan tingginya status sosial seseorang memang belum tentu mencerminkan tabiat kebaikan. Lihatlah mereka  yang memiliki jabatan dalam status politik, banyak yang tergoda aurat nikmat korupsi. Mereka yang memiliki status sebagai pejabat sengaja menggunakan aji mumpung punya pangkat. Mereka yang memiliki status ekonomi tinggi cenderung lupa untuk bersedekah energy. Mereka yang memiliki status sosial yang memikat jadi mudah mengumbar gelora syahwat.
Mereka-mereka ini beralasan bahwa status yang mereka miliki saat ini adalah hasil jerit payahnya, maka sudah saatnya mereka menikmatinya meskipun secara membabi buta. Orang-orang yang menikmati kesuksesan secara membabi buta ini, yang tidak memedulikan batasan baik benar atau salah mudharat dapat dikategorikan sebagai orang yang melupakan.
Para politikus yang keenakan merasakan nikmat kekuasaan jadi melupakan hak konstituennya.  Bukannya menyejahterakan konstituen, mereka lebih asyik menyejahterakan diri sendiri. Para pejabat yang duduk di kursi empuk birokrat menawarkan kemudahan bagi para sanak kerabat, padahal harusnya posisi tersebut dilelang massal melalui tes yang akan menguji calon yang baik dan layak, bukan mereka yang punya uang banyak.
Mereka yang kaya melupakan hak fakir miskin dan memilih menjadi pelit. Jadilah mereka menjadi sosok Qarun berharap harta mereka akan kekal bertambah turun-temurun dengan cara menimbun. padahal, harusnya harta mereka diurun bagi, niscaya hitung-hitungan Allah tidak akan membuat mereka merugi.
Aduhai kasihan tenan mereka yang mabuk kepayang kenikmatan. Kata kesuksesan tercapai, kala godaan kenikmatan melambai-lambai, mereka menjadi orang yang melupakan. Melupakan kala keinginan terpenuhi adalah tabiat binatang. Semoga sahabat semua tetap istiqomah memilih menjadi manusia seutuhnya yang berakal budi dan berhati nurani. Bukannya menjadi membabi buta, tikus kantor, atau serigala bagi manusia lain. *Huwehe

(Sumber: Buku “Guyu Hidup Tenang Mati Senang” Karya Cak Aep GuyuMaster)

Senin, 09 Februari 2015

Beda Aliran


Beda Aliran
Saat jeda istirahat siang suatu pelatihan yang ditujukan untuk para dosen honorer salah satu universitas swasta terkemuka di Indonesia. Seorang dosen peserta yang menghampiri saya yang saat itu berencana untuk laporan pada Yang Maha Kuasa. Bernada setengah mengejek ia bertanya kepada saya, “mobilnya yang mana Mas?” Sembari melepas kaus kaki, saya menjawab, “Oh saya ndak bawa mobil, saya ke sini menggunakan sepeda motor. Itu dia sepeda motor saya,” jari saya menunjuk Jupi, sahabat setia saya.
Dosen tersebut hanya menyinggungkan senyum yang berporos ke sudut bibir kanannya. “Kalo saran saya, lain kali pas ngisi training bawa mobil mas, biar keren dan dihormati orang,” nasihat laki-laki tersebut. “Dulu saya pernah hampir dapat tender besar proyek pendidikan untuk sekolah terkemuka di Jakarta. Saya bela-belain pinjam mobil teman untuk datang ke sekolah tersebut, melihat bawaan saya, Kepala sekolah tersebut setuju untuk bekerja sama. Tinggal menunggu empat hari lagi untuk penandatangan kontrak kerja samanya,” cerita laki-laki tersebut.
Saya kemudian bertanya bagaimana kelanjutan kisahnya. Laki-laki tersebut melanjutkan, “itu dia Mas, celakanya ketika hari penandatangan, teman saya lagi pergi keluar kota, mobilnya tentu dia bawa. Kelabakan saya cari rental mobil tapi ternyata gak ada yang sama persis mobil teman saya,” laki-laki tersebut kembali bercerita dan seakan mengacuhkan ekspresi wajah saya yang sudah kebelet buang air kencing.
“Yah, akhirnya saya kesana bawa motor. Sampai disana saya sempat melihat kepala sekolah tersebut. Saya disuruh menunggu lima belas menit. Kemudian seorang staf sekolah keluar dan menyampaikan mohon maaf kepala sekolah sedang sibuk dan tidak bisa menemui,” mulutnya mulai berbusa-busa bercerita.
“Lalu si staf tadi menyampaikan alasan yang gak masuk akal. Padahal dulu bilang sudah tidak ada masalah dengan kontrak kerja samanya. Eh, pas saya datang waktu itu bilangnya kepala sekolah masih sibuk dan belum sempat merivisi draft kerja sama yang menurutnya masih bermasalah. Saya yakin itu semua karena saya datang bawa motor,” Laki-laki tersebut pun menunjuk motor new shogun SP warna hitam miliknya.
“Orang Indonesia itu masih melihat apa bawaan kita. Makanya kalo mau sukses jadi trainer dan dapat bayaran mahal bawaannya mas harus serba mahal. Ingat mas jujur menjalani profesi, malah bisa hancur dan bikin depresi,” laki-laki tersebut memberikan kesimpulan.
Saya pun akhirnya mendapatkan kesempatan berbicara. Sembari ngempit si Agung yang segera ingin nabung, saya bertanya sederhana, “Pak Dosen, yang berbicara di depan, mobil atau manusia? Lalu mana yang lebih istimewa dan berharga mahal, mobil atau manusia? Mana yang merupakan masterpiece kehidupan sesungguhnya mobil atau manusia?
“Nah mungkin itu yang menjadi permasalahan, sering kali beberapa orang dan mungkin Pak Dosen menjalani kesepakatan atau bahkan kehidupan dengan sesuatu yang palsu dan memaksakan. Saya ndak malu mengakui bahwa ke mana-mana mengendarai motor, karena kemampuan saya baru bisa beli motor. Daripada saya omong besar sesumbar dengan memamerkan apa yang bukan kemampuan dan bawaan saya. Lebih baik apa adanya, karena sejatinya kita adalah masterpiece kehidupan. Lebih berharga dan lebih mahal, satu-satunya dan istimewa daripada mobil atau apapun yang kita bawa,” Saya pun menuju Jupi, mencium motor saya yang berada hanya lima langkah di depan.
Mendapat rezeki dan dibayar mahal dari profesi yang kita jalani adalah bonus. Kenikmatan menyalurkan hobi melalui profesi itulah bawaan yang ndak akan pernah hangus. Maaf ya Pak Dosen kita beda aliran…. *Huwehe

(Sumber: Buku “Guyu Hidup Tenang Mati Senang” Karya Cak Aep GuyuMaster)

Senin, 12 Januari 2015

Cinta yang berkelas



Cinta yang berkelas
Cinta berkelas itu, rela menunggu hingga waktunya tiba, tiba saatnya untuk mencintai seseorang yang berkelas
Cinta berkelas itu, bukan menuntut keadaan pasangan sempurna, tetapi keduanya harus saling mengisi kekurangan, ingat manusia tidak ada yang sempurna
Cinta berkelas itu, berani datang ke rumah kemudian melamar, bukan dengan rayuan maut yang dilayangkan yang berisikan kalimat-kalimat palsu
Cinta berkelas itu, cinta yang mendekatkan seseorang kepada Tuhan, bukan malah menjadi jauh dengan Tuhan
Cinta berkelas itu, rela dan menerima apa adanya, bukan menerima ada apanya
Cinta berkelas itu, seperti bagian tubuh, ketika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, tubuh yang lain pun ikut merasakan
Cinta berkelas itu, bisa menjadi partner yang baik, tentunya partner dalam menjalani hidup hingga akhir hayat
Cinta berkelas itu, layaknya sepasang sepatu, yang selalu melangkah beriringan
Cinta berkelas itu, mengawali hubungan yang benar ibarat menanam sesuatu yang baik, maka hubungan yang dihasilkan akan baik
Cinta berkelas itu, bukan yang tidak pernah ada konflik, justru konflik menjadi bumbu dalam percintaan layaknya asin, pahit, dan manis
Cinta berkelas itu, memiliki visi yang sama untuk menatap kehidupan ke depannya, ibarat berjalan dalam satu jalan yang sempit yang hanya bisa dilewati dengan satu motor, jika ada dua motor yang digunakan maka salah satu harus ditinggalkan
Cinta berkelas itu, dua insan yang sudah mengikat janji suci sehidup semati, dengan resiko apapun akan selalu bersama hingga maut menjemput

Jumat, 09 Januari 2015

Selalu ada Hikmah dalam Setiap Kejadian

Selalu ada Hikmah dalam Setiap Kejadian
Setiap kejadian apapun yang kita alami, pasti memiliki hidayah yang biasa kita sebut “hikmah”. Hikmah disini memang datangnya dari Allah SWT, hanya saja perantaranya adalah manusia. Kejadian yang menyenangkan atau bahkan sangat menjengkelkan, pasti selalu ada hikmah di dalamnya. Jangan selamanya menyalahkan kejadian buruk yang menimpa kita sedangkan dengan adanya kejadian baik malah kita menjadi kufur, tidak ingat kepada Allah yang mengantarkan kita ke jurang kesesatan.
Manusia ketika mengalami kejadian buruk, secara wajar akan mengalami kesedihan, perasaan was-was, dan merasa tidak tenang. Sangatlah wajar sifat manusia seperti itu, karena pada dasarnya manusia diciptakan memiliki hati dan perasaan, sehingga bisa merasakan setiap kejadian. Bahkan yang lebih buruk lagi, manusia ada yang sampai mengatakan seperti ini, “Mengapa aku mendapat ujian seperti ini? Allah memang tidak adil kepadaku, aku selalu mendapat kejadian yang tidak menyenangkan, Allah sudah ga suka sama aku, padahal aku hamba-Nya, mana keadilan Allah???”. Manusia yang mengatakan seperti itu adalah manusia yang tidak tau diri. Betapa banyak rizki yang Allah berikan, betapa banyak nikmat yang diberikan, kemudian hanya karena suatu kejadian yang buruk kemudian manusia menjadi menyalahkan Allah? Lalu nikmat yang Allah berikan dikemanakan? Dilupakan jauh-jauh? Renungkanlah semua renungkanlah. Hanya satu masalah yang diberikan, kemudian menjadikan kita melupakan semua kebaikan yang pernah didapatkan, manusia yang tidak pernah bersyukur akan hidup, hanya mementingkan diri nya sendiri, ingin selalu mendapatkan kesenangan tanpa ada kesedihan di dalamnya, layaknya meniadakan hukum gravitasi di bumi.
Cobalah berfikir betapa banyak nikmat yang diberikan, betapa banyak kejadian menyenangkan yang dialami. Hidup itu layaknya roda, tidak selamanya manusia itu diatas, bisa saja sedang di posisi bawah. Itulah hidup, makna dari kehidupan adalah mencari setiap hikmah dalam suatu kejadian, karena ketika kita mengalami kejadian buruk dan baik, pasti disitu akan ada hikmah, hanya saja kita belum menemukan atau sedang mencarinya. Carilah hikmah dan kalian akan merasa bersyukur kepada Allah SWT, mengapa kejadian itu ditimpakan kepadamu.

Kamis, 08 Januari 2015

Benih Kejujuran

Benih Kejujuran
Alkisah, ada seorang pengusaha sukses yang sudah mulai lanjut usia dan merasa harus segera memilih pengganti untuk mengambil alih bisnis yang dia kelola. Tapi bukannya memilih salah satu direksi atau anak-anaknya, ia malah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Dia memanggil semua eksekutif muda di perusahaannya bersama-sama. Dia berkata, “Sudah saatnya bagi saya untuk mengundurkan diri dan memilih CEO berikutnya. Saya telah memutuskan untuk memilih salah satu dari kalian”.
Para eksekutif muda itu terkejut, tapi bos mereka melanjutkan, “Saya akan memberikan kalian masing-masing sebuah benih hari ini. Satu benih yang sangat istimewa. Saya ingin kalian menanam benih itu, disiram setiap hari dan kembali ke sini satu tahun dari hari ini dengan apa yang telah kalian hasilkan dari benih yang saya berikan kepada kalian itu. Saya kemudian akan menilai tanaman yang kalian bawa dan tanaman yang saya pilih artinya pemiliknya akan menjadi CEO berikutnya”.
Seorang pria bernama Jim ada di antara para eksekutif itu dan dia seperti yang lainnya, menerima satu buah benih tanaman. Dia pulang ke rumah dan penuh semangat mengatakan kepada istrinya tentang bagaimana benih itu bisa membuatnya menjadi seorang CEO di perusahaannya sekarang. Istrinya pun membantu suaminya mendapatkan pot, tanah, dan kompos lalu segera menanam benih.
Setiap hari Jim menyiramnya dan melihat apakah bibit itu tumbuh. Setelah sekitar tiga minggu, beberapa eksekutif lainnya mulai berbicara tentang bibit dan tanaman yang mulai tumbuh. Jim terus memeriksa benihnya, tapi tidak pernah tumbuh. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu. Sekarang, orang lain sedang berbicara tentang tanaman mereka, tapi Jim tidak memiliki tanaman dan ia merasa gagal.
Enam bulan berlalu masih ada benih dalam pot Jim. Dia hanya tahu bahwa ia telah membunuh benihnya. Setiap orang memiliki pohon dan tanaman tinggi, tapi dia tidak. Jim tidak mengatakan apa-apa kepada rekan-rekannya, namun dia hanya terus menyiram dan memberinya pupuk. Dia begitu ingin melihat benihnya itu tumbuh.
Setahun akhirnya berlalu dan semua eksekutif muda dari perusahaan tersebut membawa tanaman mereka ke CEO-nya itu untuk diperiksa.
Jim mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak akan membawa pot yang kosong. Tapi istrinya meminta untuk bersikap jujur tentang apa yang terjadi. Jim merasa sakit perut karena itu akan menjadi saat yang paling memalukan dalam hidupnya. Tapi ia tahu istrinya benar.
Dia membawa potnya yang kosong ke ruangan rapat itu. Seketika Jim kagum pada berbagai tanaman yan ditanam oleh eksekutif lainnya. Tanaman mereka sangat indah dalam segala bentuk dan ukuran.
Jim menaruh potnya yang kosong di lantai dan banyak rekan-rekannya tertawa. Beberapa orang bahkan merasa kasihan padanya!
Ketika CEO tiba, ia mengamati ruangan dan disambut para eksekutif muda. Jim hanya mencoba bersembunyi di belakang.
“Saya lihat tanaman kalian telah tumbuh menjadi sebuah pohon dan bunga yang sangat bagus-bagus,” kata CEO. “Hari ini salah satu dari kalian akan ditunjuk menjadi CEO berikutnya!” lanjutnya.
Tiba-tiba sang bos melihat Jim di belakang ruangan dengan potnya yang kosong. Ia memerintahkan direktur keuangan untuk membawanya ke depan.
Jim sangat ketakutan. Dia berpikir, “CEO tahu aku gagal! Mungkin dia akan memecat saya!”
Ketika Jim tiba di depan, sang CEO bertanya apa yang terjadi pada tanamannya. Jim lantas mengatakan kepadanya bagaimana tanaman itu sudah dia rawat dan disiram setiap hari dengan benar, namun taka da tumbuh apapun disitu.
CEO meminta semua orang untuk duduk, kecuali Jim. Dia menatap Jim dan kemudian mengumumkan kepada semua eksekutif muda yang hadir di sana, “Lihatlah chief executive officer berikutnya! Namanya adalah Jim!”
Jim tidak bisa percaya. Jim bahkan tidak bisa membuat bibit itu tumbuh. “Bagaimana dia bisa menjadi CEO yang baru?” Tanya yang lain.
Kemudian CEO berkata, “Satu tahun lalu aku memberikan semua orang di ruangan ini benih. Aku bilang untuk mengambil benih itu, menanamnya, menyiramnya, dan membawanya kembali ke saya hari ini. Tetapi aku memberikan kalian bibit yang sudah direbus. Mereka sudah mati. Bibit itu tidak mungkin tumbuh. Kalian semua, kecuali Jim, membawakanku pohon dan tanaman juga bunga. Kalian mengetahui bahwa benih itu memang tidak akan tumbuh, namun kalian menukarkan dengan bibit lain yang bisa tumbuh. Jim adalah satu-satunya dengan keberanian dan kejujuran untuk membawakan pot dengan benih yang saya berikan. Oleh karena itu, ia adalah orang yang akan menjadi chief executive officer!”

(Sumber: Buku “Bukan Untuk Dibaca The Most Inspiring Story” karya Deassy M. Destiani)