Minggu, 15 Februari 2015

Mahasiswa Menorehkan Sejarah


Mahasiswa Menorehkan Sejarah
True story, seorang mahasiswa yang berhasil menorehkan sejarah, sejarah yang menjadikan namanya melambung tinggi diatas awan. Dengan kegigihan serta semangat demi mewujudkan perubahan, anak muda ini menjadi seorang inspirator bagi teman-teman nya. Mahasiswa yang bernama Khulqian Afief, menjadi pemenang lomba cipta lagu Hymne dan Mars IAIN Purwokerto pada tanggal 3 Januari 2015.
STAIN Purwokerto resmi berubah nama menjadi IAIN Purwokerto sejak ditetapkan oleh Presiden Jokowi pada tanggal 19 Desember 2014 di Istana Negara Jakarta. Dengan alih status tersebut, pihak birokrat kampus mengadakan event “Sayembara Logo, Jaz Almamater, Hymne dan Mars IAIN Purwokerto”. Event ini menjadi ajang yang sangat luar biasa, karena nantinya karya pemenang akan dijadikan brand kampus IAIN Purwokerto. Jati diri kampus IAIN Purwokerto akan tercermin dari Logo, Jaz Almamater, Hymne, dan Mars nya.
Dengan event tersebut, salah satu mahasiswa bernama Khulqian Afief (biasa dipanggil afif) mahasiswa semester 5 mengambil jurusan PAI di IAIN Purwokerto, tergugah semangatnya untuk mengikuti event itu dan ingin mewujudkan cita-cita nya sebagai seorang musisi yang tidak dipandang sebelah mata. Afif seorang anak musik, dia aktif dalam organisasi mahasiswa bernama MASTER (Musik Anak IAIN Purwokerto). Dia banyak menimba ilmu dan pengalaman akan musik di organisasi tersebut. Dengan ilmu yang sudah didapatkan, dia akhirnya menulis lirik lagu Hymne dan Mars IAIN Purwokerto. Afif berkata, “Ini akan menjadi ajang yang menarik untuk langkah awal saya menjadi seorang inspirator”.
Pada tanggal 29 Desember 2014, nominator lomba diumumkan oleh pihak kampus IAIN Purwokerto. Ada 13 karya Hymne dan Mars yang masuk kemudian berhasil disaring menjadi 3 besar dan salah satunya adalah karya Afif. Karya tersebut akan di presentasikan pada tanggal 3 Januari 2015 di hadapan para juri dan seluruh civitas akademika. Setelah mendengar kabar baik ini, Afif dan teman-teman MASTER lainnya, berlatih dan terus berjuang untuk menghadapi final sayembara tersebut.
Akhirnya pada tanggal 3 Januari 2015 menjadi saksi sejarah perjuangan setelah dinobatkan oleh juri, bahwa Afif sebagai pemenang lomba cipta lagu Hymne dan Mars IAIN Purwokerto dan dengan itu karyanya akan menjadi lagu wajib yang harus di hafalkan oleh seluruh masyarakat IAIN Purwokerto. Afif telah membawa dirinya dan membawa nama organisasi MASTER berkobar tinggi dan berhasil menorehkan sejarah, sejarah yang akan selalu dikenang terus sepanjang hidupnya. Inilah buah manis dari semangat dan perjuangan yang tidak kenal lelah.
Tidak ada kata hancur sebelum membangun, tidak ada kata gagal sebelum mencoba, dan tidak ada kata sukses sebelum bertindak. Cerita tersebut telah memberikan kita pencerahan bahwa perubahan butuh tindakan, mimpi harus diwujudkan dengan tindakan, janganlah takut bermimpi dan mencoba. Saya harap tulisan ini bisa memberikan semangat bagi para kaum muda,  karena sekarang lah tiba saatnya “KAUM MUDA YANG BERKARYA”.

Sabtu, 14 Februari 2015

Fenomena Valentine Day




Fenomena Valentine Day
Tadi pagi ketika saya sarapan, saya melihat di salah satu televisi swasta di Indonesia, menyiarkan bahwasanya fenomena hari kasih sayang (katanya) yang disebut Valentine Day, itu menjadi ajang hangout para remaja-remaja  untuk melakukan hal yang bebas, bebas dalam mengutarakan cinta karena dipandang hari kasih sayang  dan bahkan sebagai ajang melakukan free sex besar-besaran. Fenomena yang sangat mencengangkan ini, diduga didukung dengan adanya paket coklat dari para penjual coklat yang sengaja menyisipkan kondom di dalamnya. Paket yang semula hanya isi coklat kemudian disisipkan kondom, untuk apa? Sekali lagi, hari Valentine Day ini menjadi ajang para remaja untuk menanggalkan kehormatan kepada seorang kekasih nya. Alasan cinta menjadi salah satu pusaka yang diberikan para remaja untuk dapat mendapatkan kenikmatan sementara. Miris sungguh miris.
Merujuk dari buku Udah Putusin Aja karya Felix Siauw, pada tahun 2005, Koran Pikiran Rakyat mengadakan sebuah angket dari 413 responden yang menjawab angket secara sah, 26,4% di antaranya mengaku lebih suka merayakan Valentine bersama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan, lalu berciuman (melakukan hubungan seks). Dari beberapa data yang di kumpulkan, juga bisa kita lihat di media, penjualan kondom seminggu sebelum dan setelah Valentine Day meningkat 40-80% di setiap gerainya, bahkan sering kali ada yang sold-out. Beberapa gerai bahkan tidak malu-malu lagi memajang paket cokelat Valentine Day yang dibanderol langsung dengan sebungkus kondom. Dari situ saja sudah bisa dilihat, betapa buruk nya dampak dari Valentine Day, apalagi sekarang tahun 2015???
Sebenarnya jika kalian ingin berfikir dan merenung sejenak, perayaan Valentine Day ini menguntungkan bagi mereka, para investor asing yang memiliki perusahaan coklat serta kondom. Dengan hegemoni mereka bahwa Valentine Day adalah hari kasih sayang, maka semakin besar para investor-investor ini meraup keuntungan. Hegemoni Kapitalis ini sudah merasuki hampir semua lini dan salah satunya adalah Valentine Day. Kita sebagai masyarakat menjadi boneka mereka, boneka yang siap menghabiskan uang untuk mereka, kemudian mereka semakin kaya dan untung. Masih belum memikirkan? Yuk renungkan sejenak.
Jadi sudah sepantasnya kita tidak merayakan nya. Menurut saya, hari kasih sayang itu semua hari, dan terutama kita sebagai anak, kasih sayang lah pada ibu dan bapak, karena dengan mereka kita semua bisa hidup hingga sampai sekarang ini. So, jangan mau kita terhegemoni oleh budaya kapitalis dan hedonis ini, jadilah masyarakat yang cerdas dan mengerti akan esensi dari hari kasih sayang yang sebenarnya.

Kamis, 12 Februari 2015

Change your Habit, Change your Life, Change your Future

Change your Habit, Change your Life, Change your Future
“Judulnya aja udah pake bahasa inggris, jangan-jangan isinya pake bahasa inggris nih??” Tenang-tenang, isinya pake bahasa Indonesia kok, walaupun sedikit agak aksen kebaratan haha. Dari judul, sudah bisa tertebak ya apa yang ingin saya sampaikan. Saya ingin menerangkan bahwa merubah kebiasaan dapat merubah hidup dan tentunya akan merubah masa depan anda. Simak yuk…
Habit atau kebiasaan, merupakan tindakan manusia yang dilakukan selama berhari-hari dan itu sudah melekat pada dirinya. Kebiasaan yang dilakukan ini sudah sangat mendarah daging dan sudah menjadi suatu hal yang selalu diulang. Seperti contoh kebiasaan makan kita di pagi hari, suatu hari kita tidak makan pagi biasanya perut akan sakit. Itulah kebiasaan, kalo tidak dikerjakan sekali maka akan menyebabkan kerugian atau tidak seimbangnya tatanan yang sering dilakukan. Kemudian kebiasaan kita ketika bangun pagi lalu merapikan tempat tidur, jika orang yang sudah membiasakan maka akan merapikan, tetapi yang tidak membiasakan maka akan membiarkan tempat tidurnya.
Sudah dipaparkan penjelasan dan contoh dari habit, maka di alinea ini saya akan menjelaskan bahwa “Habit yang baik maka akan menghasilkan hidup yang baik”. Merubah habit yang buruk menjadi habit yang baik, memang membutuhkan proses, itu semua tergantung dari individu itu masing-masing. Secara logika, habit yang buruk maka akan mengakibatkan kehidupan kita buruk. Contoh saja orang itu kebiasaan menyakiti teman, maka akan menimbulkan kemarahan dan kebencian dari  teman-temannya yang telah disakiti. Maka dari itu saya menekankan bahwa, siapapun yang memiliki kebiasaan buruk yang melekat hingga sekarang, musnahkan lah itu dan hancurkan lah, rubah menjadi habit yang baik. Habit ini sangat mempengaruhi penilaian kita di mata orang. Kita bisa dipandang sopan, rajin, tekun itu ya dari habit. Kita bisa dipandang urakan, ga tau diri, dan nakal ya dari habit. Maka dari itu, ubahlah habit yang masih buruk menjadi baik, yang sudah baik segera ditingkatkan sehingga hasilnya maksimal.
Kemudian ketika habit sudah dirubah menjadi habit yang baik, maka otomotis dan secara nalar yang sehat, itu akan merubah hidup kita. Hidup yang biasanya mengalami ketakutan, was-was, dan selalu curiga akan tergusurkan dari memulai suatu habit yang baik. Habit yang baik ini ibarat obat bagi kita semua, obat bagi hati kita, obat mujarab bagi kehidupan kita. Bagaikan stimulus yang memberikan efek positif. Kehidupan yang diawali habit yang buruk maka akan merugikan hidup kita sendiri, menyia-nyiakan kehidupan yang sudah diberikan Allah kepada kita. Habit buruk memberikan pandangan masyarakat yang buruk pula serta menyengsarakan hidup kita sendiri. Maka dari itu mulailah bangun, ubah kebiasaan buruk, dan take action.
Masa depan, berbicara masa depan ini akan sangat berkaitan dengan kebiasaan yang dilakukan dan impact dari perilaku habit ini. Ketika kita sudah membiasakan perilaku yang baik, dan itu sudah menjadi kebiasaan dalam hidup, maka akan memberikan masa depan yang baik pula. Itu seperti pepatah “Menanam baik akan menghasilkan baik pula”. Sesuatu yang sifatnya jauh dan memang belum terlihat, tetapi ketika kita membiasakan hidup kita baik, maka insya Allah, masa depan kita juga akan baik. Tanamlah kebaikan dan kita akan menuai itu di masa depan.  Terkadang menanam baik saja hasilnya belum tentu baik, apalagi yang menanam dengan keburukan atau kebiasaan yang buruk? Maka dari itu, rubahlah kebiasaan kita, selama jantung masih berdetak serta perilaku buruk kita belum merugikan orang banyak. So, ciptakan habit yang baik agar menghasilkan hidup yang baik dan berkualitas, dari hidup yang baik dan berkualitas itulah memberikan masa depan positif dan cerah.

Selasa, 10 Februari 2015

Tabiat Binatang

Tabiat Binatang
Bagus dan tingginya status sosial seseorang memang belum tentu mencerminkan tabiat kebaikan. Lihatlah mereka  yang memiliki jabatan dalam status politik, banyak yang tergoda aurat nikmat korupsi. Mereka yang memiliki status sebagai pejabat sengaja menggunakan aji mumpung punya pangkat. Mereka yang memiliki status ekonomi tinggi cenderung lupa untuk bersedekah energy. Mereka yang memiliki status sosial yang memikat jadi mudah mengumbar gelora syahwat.
Mereka-mereka ini beralasan bahwa status yang mereka miliki saat ini adalah hasil jerit payahnya, maka sudah saatnya mereka menikmatinya meskipun secara membabi buta. Orang-orang yang menikmati kesuksesan secara membabi buta ini, yang tidak memedulikan batasan baik benar atau salah mudharat dapat dikategorikan sebagai orang yang melupakan.
Para politikus yang keenakan merasakan nikmat kekuasaan jadi melupakan hak konstituennya.  Bukannya menyejahterakan konstituen, mereka lebih asyik menyejahterakan diri sendiri. Para pejabat yang duduk di kursi empuk birokrat menawarkan kemudahan bagi para sanak kerabat, padahal harusnya posisi tersebut dilelang massal melalui tes yang akan menguji calon yang baik dan layak, bukan mereka yang punya uang banyak.
Mereka yang kaya melupakan hak fakir miskin dan memilih menjadi pelit. Jadilah mereka menjadi sosok Qarun berharap harta mereka akan kekal bertambah turun-temurun dengan cara menimbun. padahal, harusnya harta mereka diurun bagi, niscaya hitung-hitungan Allah tidak akan membuat mereka merugi.
Aduhai kasihan tenan mereka yang mabuk kepayang kenikmatan. Kata kesuksesan tercapai, kala godaan kenikmatan melambai-lambai, mereka menjadi orang yang melupakan. Melupakan kala keinginan terpenuhi adalah tabiat binatang. Semoga sahabat semua tetap istiqomah memilih menjadi manusia seutuhnya yang berakal budi dan berhati nurani. Bukannya menjadi membabi buta, tikus kantor, atau serigala bagi manusia lain. *Huwehe

(Sumber: Buku “Guyu Hidup Tenang Mati Senang” Karya Cak Aep GuyuMaster)

Senin, 09 Februari 2015

Beda Aliran


Beda Aliran
Saat jeda istirahat siang suatu pelatihan yang ditujukan untuk para dosen honorer salah satu universitas swasta terkemuka di Indonesia. Seorang dosen peserta yang menghampiri saya yang saat itu berencana untuk laporan pada Yang Maha Kuasa. Bernada setengah mengejek ia bertanya kepada saya, “mobilnya yang mana Mas?” Sembari melepas kaus kaki, saya menjawab, “Oh saya ndak bawa mobil, saya ke sini menggunakan sepeda motor. Itu dia sepeda motor saya,” jari saya menunjuk Jupi, sahabat setia saya.
Dosen tersebut hanya menyinggungkan senyum yang berporos ke sudut bibir kanannya. “Kalo saran saya, lain kali pas ngisi training bawa mobil mas, biar keren dan dihormati orang,” nasihat laki-laki tersebut. “Dulu saya pernah hampir dapat tender besar proyek pendidikan untuk sekolah terkemuka di Jakarta. Saya bela-belain pinjam mobil teman untuk datang ke sekolah tersebut, melihat bawaan saya, Kepala sekolah tersebut setuju untuk bekerja sama. Tinggal menunggu empat hari lagi untuk penandatangan kontrak kerja samanya,” cerita laki-laki tersebut.
Saya kemudian bertanya bagaimana kelanjutan kisahnya. Laki-laki tersebut melanjutkan, “itu dia Mas, celakanya ketika hari penandatangan, teman saya lagi pergi keluar kota, mobilnya tentu dia bawa. Kelabakan saya cari rental mobil tapi ternyata gak ada yang sama persis mobil teman saya,” laki-laki tersebut kembali bercerita dan seakan mengacuhkan ekspresi wajah saya yang sudah kebelet buang air kencing.
“Yah, akhirnya saya kesana bawa motor. Sampai disana saya sempat melihat kepala sekolah tersebut. Saya disuruh menunggu lima belas menit. Kemudian seorang staf sekolah keluar dan menyampaikan mohon maaf kepala sekolah sedang sibuk dan tidak bisa menemui,” mulutnya mulai berbusa-busa bercerita.
“Lalu si staf tadi menyampaikan alasan yang gak masuk akal. Padahal dulu bilang sudah tidak ada masalah dengan kontrak kerja samanya. Eh, pas saya datang waktu itu bilangnya kepala sekolah masih sibuk dan belum sempat merivisi draft kerja sama yang menurutnya masih bermasalah. Saya yakin itu semua karena saya datang bawa motor,” Laki-laki tersebut pun menunjuk motor new shogun SP warna hitam miliknya.
“Orang Indonesia itu masih melihat apa bawaan kita. Makanya kalo mau sukses jadi trainer dan dapat bayaran mahal bawaannya mas harus serba mahal. Ingat mas jujur menjalani profesi, malah bisa hancur dan bikin depresi,” laki-laki tersebut memberikan kesimpulan.
Saya pun akhirnya mendapatkan kesempatan berbicara. Sembari ngempit si Agung yang segera ingin nabung, saya bertanya sederhana, “Pak Dosen, yang berbicara di depan, mobil atau manusia? Lalu mana yang lebih istimewa dan berharga mahal, mobil atau manusia? Mana yang merupakan masterpiece kehidupan sesungguhnya mobil atau manusia?
“Nah mungkin itu yang menjadi permasalahan, sering kali beberapa orang dan mungkin Pak Dosen menjalani kesepakatan atau bahkan kehidupan dengan sesuatu yang palsu dan memaksakan. Saya ndak malu mengakui bahwa ke mana-mana mengendarai motor, karena kemampuan saya baru bisa beli motor. Daripada saya omong besar sesumbar dengan memamerkan apa yang bukan kemampuan dan bawaan saya. Lebih baik apa adanya, karena sejatinya kita adalah masterpiece kehidupan. Lebih berharga dan lebih mahal, satu-satunya dan istimewa daripada mobil atau apapun yang kita bawa,” Saya pun menuju Jupi, mencium motor saya yang berada hanya lima langkah di depan.
Mendapat rezeki dan dibayar mahal dari profesi yang kita jalani adalah bonus. Kenikmatan menyalurkan hobi melalui profesi itulah bawaan yang ndak akan pernah hangus. Maaf ya Pak Dosen kita beda aliran…. *Huwehe

(Sumber: Buku “Guyu Hidup Tenang Mati Senang” Karya Cak Aep GuyuMaster)